Aku sedang berada di dapur mencuci piring-piring pada suatu malam ketika aku melihat sebuah truk roda empat meluncur ke dalam kamp. Beberapa orang pria keluar dari kendaraan itu dan Ibnu Syeikh adalah salah satu di antaranya. Aku merapikan piring-piring itu dan lalu berjalan menghampirinya, lantas kami saling memberi salam satu sama lainnya. Aku merasa gembira melihatnya.
Tak lama kemudian, kawan-kawan lainnya bermunculan dari barak dan kami semua menuju masjid untuk mengobrol. Ibnu Syeikh memberitahu kami tentang perjalanannya dan betapa sukarnya perjalanan tersebut. Mereka harus merayap di atas jalan yang penuh bahaya melalui pegunungan berlapis salju untuk menghindari penyeberangan ke Pakistan di satu sisi, dan zona perang di sisi lainnya.
Setelah dia menuntaskan ceritanya, dia menoleh padaku. “Abu Imam, bagaimana kalau kita berjalan-jalan sebentar?” Aku mengikutinya keluar dari masjid, akan tetapi tak lama setelah kami berada di luar, angin bertiup kencang ke arah kami. Akhirnya kami duduk-duduk di depan truknya.
“Abu Imam, ucapnya memulai pembicaraan, “hampir setahun sejak Abu Anas membawamu kepada kami. Dan sejak saat itu kau telah mempelajari banyak hal untuk melawan tawagheet.” Aku mengangguk, dan dia melanjutkan. “Aku ingat sewaktu kau berada di Khaldan, kau mengatakan ingin memperjuangkan jihadmu di Chechnya?”
“Ya,” kataku. “Itu yang kumau.”
Ibnu Syeikh menghela nafas. “Abu Imam, lahan jihad itu luas. Namun yang paling penting adalah jihad ‘ilal quds al syarif. Di sana, di Yerusalem, musuh-musuh Allah sedang membebankan penderitaan yang amat besar terhadap saudara-saudara kita sesama Muslim.”
Ibnu Syeikh telah mengatakan ini berulang kali di Khaldan: Yerusalem adalah jantung Islam, dan prioritas pertama bagi para mujahidin.
Namun kemudian Ibnu Syeikh menjelaskan. “Kita mesti memerangi orang-orang Zionis secara efisien; kita harus menyerang mereka pada saat-saat mereka paling lengah. Kita perlu kawan-kawan yang dapat tinggal di antara mereka, yang dapat mengamati mereka, mengawasi mereka. Kita perlu cetak biru dan foto-foto klub-klub mereka, sinagog-sinagog mereka, bank-bank mereka, konsulat-konsulat mereka. Di mana pun mereka berkumpul dalam jumlah besar.”
“Kita tidak dapat mengutus sembarang orang untuk melaksanakan tugas ini,” lanjutnya. “Kita perlu seorang kawan yang tahan terhadap semua godaan, dan tetap bersikap tulus pada dirinya sendiri ketika dia hidup di antara orang-orang kafir. Kita perlu seseorang dengan kesabaran dan ketekunan yang tiada batasnya. Perlu waktu untuk melebur dengan mereka, untuk menemukan pekerjaan, dan mendapatkan dokumentasi yang tepat. Perlu waktu untuk menemukan sekelompok kawan, empat atau lima orang Muslim untuk bergabung dengan misi ini.”
Aku tahu apa yang akan dia ucapkan selanjutnya.
“Abu Imam,” sahutnya, seraya mencondongkan tubuhnya ke arahku. “Kau tinggal di Eropa selama bertahun-tahun, dan kau bisa bicara banyak bahasa. Kau cerdas, kau berani, kau mandiri. Untuk semua alasan ini, kami yakin bahwa kau dapat melayani umat sebaik mungkin dengan kembali ke Eropa.”
“Ibnu Syeikh,” selaku, “aku akan selalu mengikuti perintah apa pun yang kau berikan padaku. Tapi kenapa aku tidak boleh pergi ke Chechnya?”
“Kawan-kawan di Chechnya tidak membutuhkanmu berjuang bersama mereka di medan pertempuran,” lanjut Ibnu Syeikh. “Mereka butuh uang. Cara terbaik bagimu untuk membantu mereka adalah dengan memberi dukungan finansial kepada mereka, dengan mengirimkan ke kamp-kamp melalui Maktab.” Dia berhenti sejenak. “Dan yang paling kami butuhkan adalah lebih banyak lagi kawan-kawan yang berjuang di tanah orang-orang kafir.”
Ibnu Syeikh selesai dengan penjelasannya.
(Sumber: Omar Nasiri, “Inside The Jihad – Teroris atau Tentara Tuhan?” (diterjemahkan oleh Dina Mardiana), Jakarta: Zahra, Cet. I, Juli 2007, hal. 414-417)
